
Lima warga Suku Anak Dalam (SAD) menyerahkan diri ke Polres Sarolangun setelah kericuhan dengan personel TNI terjadi di kawasan perkebunan PT Sari Aditya Loka (SAL), Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, Jambi.
Kelima warga berinisial R, D, W, Rn, dan J tiba di Mapolres Sarolangun pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 17.20 WIB. Mereka diduga terlibat dalam pengeroyokan terhadap personel Yonif 896/Serumpun Pseko.
Kericuhan bermula pada Jumat (28/8) sekitar pukul 11.30 WIB di area inti satu PT SAL. Petugas keamanan perusahaan sebelumnya melaporkan adanya kelompok SAD yang diduga mengambil tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Personel TNI yang diperbantukan untuk pengamanan kemudian datang ke lokasi.
Situasi memanas ketika sejumlah personel merekam aktivitas warga. Ketegangan meningkat setelah warga disebut berusaha merebut telepon seluler milik anggota TNI. Cekcok pun berubah menjadi aksi kekerasan.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah warga SAD mengejar dan mengeroyok personel TNI. Dalam rekaman tersebut, terlihat pula warga membawa senjata tajam dan benda tumpul. Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin mengatakan salah satu personel mengalami luka memar.
Dua hari setelah kejadian, lima warga SAD memilih mendatangi polisi dan menyerahkan diri. Sekitar 15 warga lainnya turut mengantar mereka ke Mapolres Sarolangun. Polisi juga menerima informasi bahwa dua warga lain, berinisial B dan N, berencana melakukan hal serupa.
Kapolres Sarolangun AKBP Wendi Oktariansyah mengatakan proses hukum akan dilakukan berdasarkan fakta dan alat bukti yang ditemukan. Polisi juga memeriksa sejumlah saksi dari pihak TNI AD Yonif 896/Serumpun Pseko.
Namun, persoalan di PT SAL tidak berhenti pada kericuhan terbaru ini.
Gesekan antara warga SAD dan pihak perusahaan telah berulang kali terjadi. Pada April 2026, perselisihan terkait rekrutmen karyawan juga sempat berujung bentrokan dan menyebabkan warga dari kedua pihak mengalami luka.
Kericuhan yang kembali pecah menunjukkan bahwa persoalan di kawasan tersebut belum benar-benar selesai. Lima warga kini telah menyerahkan diri, proses hukum berjalan, dan situasi dijaga agar kembali kondusif.
Tetapi di balik satu per satu bentrokan yang terjadi, masih ada persoalan yang lebih panjang: konflik agraria yang terus menyisakan ketegangan antara masyarakat adat dan perusahaan.




Laisser un commentaire
Votre adresse e-mail ne sera pas publiée. Les champs obligatoires sont marqués *